-->

Iklan

Mengapa Harus Menolak Ustadz Firanda Andirja di Kota Santri ?

Jumat, 25 Maret 2022, 8:57 AM WIB Last Updated 2024-02-24T05:35:36Z

BERITWAJO.ID –  Wajo dikenal dengan slogan kota santrinya, disitu pondok pesantren Asadiyah lahir sejak tahun 1930an dan mencetak banyak ulama ternama tentunya. Mengundang sosok Firanda ini akan menjadi polemik karena dia juga sebagai ikon gerakan tidak toleran dibeberapa majelisnya, salah satu bentuk penolakan sempat terjadi di beberapa kota, salah satunya di Aceh (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-48617536).

Dalam konteksnya di Wajo, beberapa hal yang bertentangan dengan Firanda ini, bukan hanya masalah konten dakwah yang akan disampaikan tapi lebih cenderung sosok ini mewakili kelompok anti lokalitas sembari menolak menggunakan jargon agama yang notabene ulama-ulama terdahulu sudah tidak menganggap hal itu sebagai hal yang tabu dengan istilah TBC (Takhayul, Bidah, “Churafat”).

Metode ulama nusantara kita salah satunya Wajo, memasukkan nilai-nilai agama pada bentuk budaya masyarakat, berbeda dengan kelompok Firanda yang berusaha memisahkan budaya dengan ajaran kaku/tekstual agama dan bahkan membenturkannya, bukan hanya akan mengeringkan nilai agama yang harusnya membumi, bahkan ibadah akan kehilangan konteks dengan alam dan makhluk sekitar. Budaya adalah kunci identitas, agama datang mewarnainya, memberinya makna, bukan saling membenturkan. Olehnya itu, islam diterima baik karena pendekatannya tidak dengan menyalah-nyalahkan budaya ataupun agama mayoritas.

Sebagai kota santri, tidak lepas kaitannya dengan Asadiyah yang tentu bisa dikatakan Wajo sebagai pusat dakwahnya, dasar fundamental dari lembaga ini adalah ayat yang dicantumkan pada logonya yaitu ayat yang berbunyi: Wa ta’awanu alal birri wattaqwa, Terjemahannya : Saling bantulah dalam kebajikan dan ketaqwaan. (https://asadiyahpusat.org/2018/07/03/makna-lambang-asadiyah), kebajikan yang dibahas disini bila pun tidak disandingkan dengan perintah ketakwaan, paling tidak “mendahului” ketakwaan. Tidak mengurangi makna subtansinya yaitu kebajikan lebih mengarah pada menjalin kerjasama dengan siapapun (Tafsir Al-Misbah, vol.3 hal.17), dalam ceramah-ceramah yang dibawakan Firanda sangat terasa hitam putih yang ditawarkannya mengenai pembacaannya tentang agama yang sangat jauh harmonis dari budaya, bahkan arak-arakan ataupun peringatan kelahiran nabi dianggap hura-hura seperti acara barongsai dll. (www.youtube.com/watch?v=1DCXwoXeXG4 menit ke 3), pertanyaannya kemudian apakah figur seperti ini yang kita butuhkan untuk memajukan daerah di hari lahirnya kota tercinta kita ditengah gempuran globalisasi, lokalitas ditinggalkan, budaya dianggap klenik, mitos dll?

Kita tetap menghargai keilmuan beliau pada dimensi akademik, cuma prinsip utamanya akan ada ruang diskursus selalu terbuka untuk memaknai dan mengaktualkan tiap argumennya, beberapa tema yang beliau angkat sebenarnya dikalangan pelajar keagamaan banyak yang sudah terbantahkan pada kitab kitab klasik, hanya saja terus didaur ulang, bukankah prinsip akademik itu keilmuan harus terupdate, paling tidak mengakui ada teori yang lebih mutakhir dibanding rujukan usang sebelumnya? kalau pun berbicara keilmuan dan dasar-dasar teori beliau, salah satu dai dari Nadhlatul Ulama telah mendebatinya bisa di liat pada channel youtube : https://www.youtube.com/watch?v=HkCIfDrQqUU

 

wallahu a’lam bishawab


penulis : Ahmad

Editor   : Edi Prekendes

Komentar

Tampilkan

  • Mengapa Harus Menolak Ustadz Firanda Andirja di Kota Santri ?
  • 0

Terkini

Topik Populer