-->

Iklan

Kita Dalam Kepungan Pornografi

Selasa, 05 April 2022, 3:24 PM WIB Last Updated 2024-02-24T05:35:36Z

Anak di suatu malam terlihat santai dengan gawai ditangannya. Tak sengaja, duduk tepat disamping-nya, sambil menunggu pesanan ayam goreng yang sementara dikerja. Manfaatkan waktu, mengajak si anak berkomunikasi tentang jejang pendidikannya saat ini. Sekolah dimana Dek?, tanyaku. Di As’adiyah, jawabnya sambil melihat gawainya. Sudah kelas berapa? Tanyaku lagi. Kelas 2 ibtidaiyyah (setingkat SD), sahutnya lagi sambil memainkan tangannya mencari video yang disukainya.

Tak sengaja muncul video berkonten pornografi tampil di layar gawainya. Namun, seketika si anak itu melewatkannya. Sejenak ku merenung, betapa bahayanya hidup di zaman ini. Apa yang dilakukan si anak tadi adalah hal yang benar. Tapi, bisakah kita menjamin sang anak, sehari-harinya dapat terhindar dan melindungi dirinya dari konten-konten pornografi? Bagaimana dengan anak-anak lainnya yang diberi kebebasan oleh orang tuanya memakai gawai secara bebas?.

Sebelum adanya internet, materi-materi yang berbau pornografi sudah dikomsumsi oleh kebanyakan masyarakat. Dengan diterbitkan-nya majalah-majalah hot yang bertajuk orang dewasa. Kemudian muncul juga percetakan film yang sengaja memuat unsur pornografi dijual di pasar-pasar atau toko-toko kaset.

Namun kekinian, setelah internet ada. Akses untuk menjangkau konten-konten pornografi sangat mudah. Dengan modal wifi dan kouta internet. Masyarakat sudah bisa mendapatkan konten pornografi dengan sesuka hatinya. Tanpa bersusah-susah datang ke pasar untuk membeli majalah atau kaset yang berbau pornografi.

BAHAYA PORNOGRAFI

Menurut dr. Donald Hilton Jr seorang ahli bedah saraf Methodist Speciality and Transplant Hospital San Antonio, mengatakan kerusakan otak akibat kecanduan pornografi lebih sulit disembuhkan dibandingkan kecanduan makan (kegemukan) dan obat-obatan. Membiarkan terlalu lama menikmati kebiasaan ini akan berakibat fatal yaitu terjadi penyusutan jaringan otak sebab terus menerus bekerja dan lambat laun otak akan mengalami pengecilan dan rusak permanen. Ditambahkan sang Dokter, kecanduan pornografi lebih parah dari pada kecanduan narkoba (sumber: superyouth).

Selain itu dampak yang terjadi ketika kecanduan pornografi diantaranya sering tampak gugup apabila ada orang yang mengajaknya berkomunikasi, malas, tidak punya gairah beraktivitas, enggan belajar, enggan bergaul, senang menyendiri, terutama di kamarnya, enggan lepas dari gawainya (gadget), melupakan kebiasan baiknya, cemas rahasianya terbongkar, mudah marah dan tersinggung, sulit bersosialisasi baik dengan keluarga maupun dengan teman-temannya, pikiran kacau karena sering tertarik mencari materi pornografi, pelupa dan sulit berkonsentrasi (Galih, Nurlia, “Pornografi Pada Kalangan Remaja, April 2020).

ADAGIUM “FILM ORANG DEWASA”

Salah satu adagium turun temurun yang populer di masyarakat kita yaitu diksi “film orang dewasa.” Yang menindikasikan bahwa pornografi adalah film orang dewasa. Yang secara implisit berarti boleh-nya melihat film pornografi jika telah memenuhi umur dewasa.

Saya kira, ini adalah adagium yang salah kaprah dan tidak tepat yang telah mendarah daging di masyarakat kita. Padahal sudah jelas di atas pendapat para ahli tentang dampak dan bahaya-nya melihat pornografi. Tanpa melihat besar kecilnya seseorang dalam segi umurnya.

Oleh-nya itu adagium ”film orang dewasa” yang berkembang di masyarakat dan telah menjadi mindset yang terekam di kepala-kepala kita. Seyogianya dihilangkan dan mewariskan edukasi kepada anak-anak dan generasi-generasi kita untuk menghindari materi-materi pornografi yang sengaja dibuat demi kepentingan ekonomi yang sama sekali tidak memperhatikan dampak sosial yang akan terjadi.

SOLUSI KEKINIAN

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang larut dalam konten-konten pornografi diantaranya kecanggihan teknologi, rasa penasaran, kebetulan, menghilangkan rasa bosan, menghabiskan waktu kosong dan lain-nya. Yang menjadi salah satu problem mendasar manusia saat ini.

Di dalam perspektif agama. Nabi Muhammad Sallallahu a’lahi wassalam 15 abad lalu mewartakan melalui lisan mulianya wahyu dari Allah subahana wata’ala dengan kalimat perintah yang artinya, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar menjaga pandangannya dan memelihara kemaluaannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. An-Nur/24:30). Kemudian potongan ayat lainnya “Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya dan jangan mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya” (QS. An-Nur/24:31).

Al-Quran telah memerintah-kan bagi orang beriman dalam hal ini umat yang beragama Islam. Baik laki-laki maupun perempuan untuk menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Tentu menundukkan pandangan terhadap hal-hal yang diharamkan atau yang dapat mencelakakan di dunia terlebih di akhirat kelak. Salah satunya adalah melihat materi-materi atau konten pornografi. Kemudian menjaga kemaluaan yaitu kesucian diri.

Penyebaran konten-konten pornografi yang begitu masif yang dapat kita jumpai baik disengaja maupun tidak sengaja. Untuk menghindarinya menurut hemat penulis, cukup menahan mata kita untuk tidak melihat materi atau konten pornografi. Dan tentunya seraya memanjatkan doa agar mata kita dimudahkan untuk menghindari melihat hal-hal yang negatif.

Dan tidak hanya itu, perlunya sosialisasi yang masif dilakukan oleh lembaga atau institusi yang berwenang, ormas, komunitas yang konsen terhadap isu-isu pornografi. Agar masyarakat lebih paham tentang bahaya-nya segala bentuk pornografi. Dengan harapan kelak, terbentuknya generasi-generasi bertakwa, berbudi luhur yang memberi manfaat bagi umat, negara dan agama-nya.

Arung Samudra

Komentar

Tampilkan

  • Kita Dalam Kepungan Pornografi
  • 0

Terkini

Topik Populer