Angin datang bukan sebagai kabar,
Melainkan sebagai vonis
Menderu dari arah yang tak kita kenal,
Membawa murka yang tak sempat kita tafsirkan.
Makassar mendadak tak punya waktu
Untuk bersolek, pohon-pohon tua
Yang selama ini kita anggap setia,
Tumbang satu per satu seperti penjaga yang kalah
Di medan yang tak terlihat.
Atap-atap rumah melayang, bukan terbang
Melainkan direnggut,
Seperti harga diri yang dicabut paksa
Dari kepala sebuah keluarga.
Jalanan yang biasanya gaduh
Oleh klakson dan langkah,
Tiba-tiba menjadi panggung bisu:
Kendaraan tersendat, arus tersumbat,
Dan manusia berdiri sebagai penonton
Angin mengajari kita
Bahwa kekuatan bukan milik tangan,
Bukan milik harta, bukan milik jabatan,
Melainkan milik semesta
Yang kapan saja dapat berkata:
“Diamlah… dan tunduklah.”
Maka kita berlindung, kita menghindar,
Kita menutup pintu dengan gemetar yang disembunyikan,
Seraya mengakui dalam hati:
Bahwa rumah tak selalu tempat paling aman,
Bahwa kota tak selalu kuat,
Dan bahwa kita tak lebih dari makhluk
Yang hanya bisa bertahan
Di sela-sela ampunan-Nya.
by. syakhruddin tagana
Makassar, 1 Februari 2026


