-->

Iklan

Nafis Rathore, Pemuda Belanda yang Hatinya Berlabuh di Labawang Wajo

BERWA
Rabu, 24 April 2024, 9:08 PM WIB Last Updated 2024-04-24T13:13:34Z





BERITAWAJO.ID, KEERA - Lahir di Luton, sebelah barat laut London, Inggris Raya dari seorang ibu berdarah Pakistan, Nafis Rathore hijrah ke Belanda dalam usia tiga bulan.


Jelang petang ini saya menemui Nafis di sebuah rumah salah seorang kerabat Sulisda Yanti, perempuan Bugis yang telah meluluhkan hatinya jauh-jauh terbang dari Negeri Tulip ke Timur Jauh di Nusantara di Pulau Sulawesi, tepatnya di Dusun Labawang, Desa Labawang, Kecamatan Keera, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Indonesia.


Saya meminta izin kepada Sulisda Yanti yang karib disapa Lisda agar dipertemukan dengan Nafis, calon suaminya.


Saya pun memperkenalkan diri kepada Nafis. Awalnya saya tanya bahasa yang digunakannya. Rupanya Nafis seorang poliglot yang mampu berbahasa Belanda, Inggris, dan Prancis.


Kami pun mengobrol dengan bahasa Inggris, sesekali bahasa Prancis dan Belanda.


Awalnya saya menanyakan kewarganegaraan Nafis yang sebenarnya. Dikeluarkannya dari sakunya dan diperlihatkannya ke saya sebuah paspor bertuliskan Europese Unie, Koninkrijk der Nederlanden (Uni Eropa, Kerajaan Belanda).


Tatkala saya tanyakan di mana mereka berkenalan, Nafis menyebut mereka berkenalan di Instagram pada bulan Januari lalu dan berkomunikasi lewat pesan langsung (direct message atau DM), sebuah fitur di Instagram.


"Kami pun merasa cocok dan memutuskan untuk bertemu. Saat ini kami sedang mengurus dokumen-dokumen pernikahan kami," jelas Nafis, seorang Muslim Belanda.


"Are you a Moslem?", tanya saya. Dia pun menjawab,"Alhamdulillah". Nafis lahir tahun 1993 sementara Lisda lahir tahun 2002.


Nafis bekerja sebagai pemimpin tim manajemen (team leader/management) di kantor pusat salah satu maskapai penerbangan kesohor Belanda. 


Wajah orientalnya yang ala-ala Asia Selatan memantik saya bertanya perihal eyangnya yang berasal dari Pakistan.


"Eyang saya beremigrasi ke Inggris Raya pada masa kolonisasi. Kolonisasi Inggris memberi akses eyang saya berangkat ke Inggris Raya dan akhirnya beranak pinak di Inggris Raya," terang Nafis yang mendaku ibunya juga lahir di Inggris Raya.




Bekerja di salah satu maskapai kelas dunia di Belanda, Nafis kepincut dengan gadis Bugis asal Labawang di Wajo, Sulsel. Hanya berselang tiga bulan sejak berkenalan di DM Instagram, Nafis memutuskan terbang ke Indonesia menemui kekasih hatinya yang dikenalnya di Instagram.


Lisda yang duduk di samping Nafis membantah kabar di media sosial jika mereka berkenalan di Facebook. Awalnya saya bertanya ke Nafis bahwa apakah mereka berkenalan di aplikasi perjodohan? "Kami berkenalan di Instagram," tegasnya.


Lalu apakah Nafis akan memboyong Lisda ke Negeri Kincir Angin? Nafis menjawab bahwa dirinya tidak memaksa Lisda. "Itu pilihan Lisda, saya tidak memaksa. Tidak boleh ada kesan bahwa saya memaksanya ke Belanda," tegasnya.


Kepada saya Lisda menyebut bahwa dirinya akan ikut ke Belanda setelah pernikahan mereka terlaksana. "Dokumen-dokumen sedang kami urus," kata Lisda.


Kepada Nafis saya berkata,"Anda jauh-jauh dari Belanda ke sini untuk menemui pujaan hati Anda, seorang wanita Bugis yang cantik. Ini luar biasa."


"This is because of Allah (ini karena Allah)," kunci Nafis di akhir wawancara. Saya pun pamit dan mengucapkan selamat berbahagia kepada mereka. Nafis memeluk saya dalam konteks persaudaraan Islam (Islamic brotherhood).


Mais, c'est l'amour. 


Penulis : Abdul Wahab Dai

Sumber Media : karebacebes.com 

Editor   : Edi Prekendes 








Komentar

Tampilkan

  • Nafis Rathore, Pemuda Belanda yang Hatinya Berlabuh di Labawang Wajo
  • 0

Terkini

Topik Populer