BERITAWAJO.ID, SENGKANG -Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabuaten Wajo Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) saat ini fokus terhadap persoalan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di daerah itu khususnya pada sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum memenuhi standar lingkungan di daerah tersebut.
Progres Ipal itu masuk terencana setelah Kadis Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wajo Andi Fakhrul Rijal Bersilaturahi dan mendapat saran dari Anggota DPRD Provinsi Sulawesi selatan (Sulsel) Sultan Tajang S H. Beserta anggota DPRD Kabupaten Wajo Fery Saputra Santu yang bertempat di Bola Pute pada Jumat (10/4/2026).
Dihadapan sejumlah Wartawan, Kadis DLH Wajo menuturkan dengan adanya masukan diberikan oleh wakil rakyat tersebut, pihaknya juga sudah mempunyai gambaran langkah-langkah apa yang harus ditempuh ke depan terkait masalah IPAL MBG. Karna MBG ini sejak awal tidak ada petunjuk teknis secara khusus dari Badan Gizi Nasional.
Meski demikian, berdasarkan survey lapangan yang dilakukuan oleh tim dari DLH, Banyak MBG yang tidak mampu memakai IPAL biotech atau tangki karena butuh area cukup luas.
"Kalau berdampak ke lingkungan, harusnya disuspensi dulu sampai mekanisme pengelolaan limbah cairnya diperbaiki,” tegas Andi Fakhrul Rijal.
Lebih lanjut dia katakan, bahwa pengelolaan limbah cair merupakan syarat utama yang harus dipenuhi sebelum operasional dapur SPPG berjalan, Sebab limbah harus dikelola dulu sebelum dialirkan ke drainase terbuka.
Dan menjadi persoalan utama, berada pada limbah cair hasil aktivitas dapur, sementara untuk limbah udara dinilai masih dalam batas aman. Karena itu, pihaknya fokus perbaikan diarahkan pada sistem pengolahan limbah cair agar sesuai standar.
"Ke depan kita akan mengundang Pengelola MBG Wilayah Wajo untuk berdiskusi untuk mencari solusi terbaik.
Dan Alhamdulillah sudah ada gambaran gambaran yang kami dapat dari hasil diskusi dari anggota DPRD Sulsel Sultan Tajang dan anggota DPRD Wajo Feri Daputra Santu.
Insya Allah tinggal kita di diskusikan dengan pengelolaan MBG ini," tuturnya.
Editor : Edi Prekendes



