BERITAWAJO.ID, INYERNASIONAL – Kekalahan Argentina dari Spanyol pada final Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi akhir perjalanan sang juara bertahan, tetapi juga memicu kritik tajam terhadap gaya bermain dan sikap para pemain Albiceleste sepanjang pertandingan.
Sejumlah pengamat menilai Argentina lebih banyak mengandalkan permainan keras, pelanggaran taktis, serta upaya mengganggu ritme permainan lawan dibanding membangun serangan. Gelandang Leandro Paredes disebut sebagai salah satu pemain yang paling sering terlibat dalam insiden di lapangan, sementara Enzo Fernandez juga menjadi sorotan hingga akhirnya menerima kartu merah.
Meski empat pemain Argentina menerima kartu kuning, banyak pihak menilai tindakan mereka seharusnya mendapat hukuman yang lebih berat. Perdebatan mengenai kepemimpinan wasit pun kembali mencuat setelah pertandingan berakhir.
Baca Juga : Lamine Yamal: Kisah Perjuangan "Bocah Ajaib" Barcelona yang Lahir dari Keterbatasan
Dari sisi statistik, Spanyol tampil jauh lebih dominan dengan mencatat 852 operan, sedangkan Argentina hanya 464 operan. Dominasi itu akhirnya membuahkan hasil melalui gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu yang memastikan kemenangan 1-0 bagi La Roja.
Penampilan gemilang kiper Emiliano Martinez yang membukukan 11 penyelamatan membuat Argentina mampu bertahan hingga babak tambahan. Namun, fakta lain menunjukkan minimnya ancaman Albiceleste, yang bahkan tidak melepaskan satu pun tembakan sepanjang 90 menit waktu normal. Upaya pertama mereka baru tercipta melalui Lionel Messi pada menit ke-117.
Situasi semakin memanas setelah peluit panjang dibunyikan. Keributan antarpemain terjadi di lapangan dan kini tengah menjadi bahan penyelidikan FIFA. Insiden tersebut semakin memperkuat kritik terhadap sikap sebagian pemain Argentina setelah gagal mempertahankan gelar juara dunia.
Kemenangan Spanyol pun dipandang banyak pengamat sebagai hasil yang layak, mengingat dominasi permainan mereka sepanjang laga final.
Sumber : www.bbc..com
Editor. : Edi Prekendes




