BERITAWAJO.ID, INTERNASIONAL - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Teheran tidak lagi membuka peluang dialog dengan Washington.
Dalam wawancara dengan PBS NewsHour, Araghchi menyatakan bahwa berbicara kembali dengan Amerika Serikat tidak lagi masuk dalam agenda Iran. Pernyataan itu muncul setelah Iran menilai pengalaman diplomasi sebelumnya berakhir dengan pengkhianatan, terutama ketika serangan militer Amerika terjadi saat proses negosiasi disebut sedang mengalami kemajuan.
“Tembakan terus berlanjut, dan kami bersiap. Kami sangat siap untuk terus menyerang mereka dengan rudal-rudal kami selama diperlukan dan selama waktu yang dibutuhkan,” tegas Araghchi.
Ia juga menambahkan bahwa Iran saat ini tidak melihat alasan untuk kembali duduk di meja perundingan dengan Amerika Serikat.
Sikap keras Teheran juga tercermin dari pernyataan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, yang menegaskan bahwa Iran tidak sedang mencari gencatan senjata. Menurutnya, satu-satunya cara menghentikan agresi adalah dengan memberikan balasan yang membuat pihak penyerang jera.
Di tengah meningkatnya ketegangan, reaksi publik Iran juga ramai bermunculan di media sosial. Banyak warga menyindir kemungkinan dialog dengan Amerika Serikat dengan kalimat yang viral:
“Selama bulan Ramadhan, kami tidak berbicara dengan setan.”
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengeluarkan peringatan keras kepada Iran. Ia mengancam akan memberikan balasan yang jauh lebih besar jika Iran mencoba mengganggu aliran minyak dunia melalui Strait of Hormuz.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur energi paling vital di dunia, yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global. Ketegangan di kawasan tersebut kini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi dan energi dunia.
Situasi ini membuat konflik Iran–Amerika Serikat berpotensi semakin melebar, dengan dampak yang tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga di pasar energi global.
Sumber : Suara.com, PBS NewsHour
Editor. : Edi Prekendes


