BERITAWAJO.ID, TIMUR TENGAH - Raja Faisal, satu-satunya raja Saudi yang anti Zionis. Dia adalah pemimpin politik pertama di dunia yang menyamakan Zionis dengan Nazi.
Ia pembela Palestina. Saat ditanya, "mengapa jarang tampak tersenyum?", dia menjawab, "tidak akan tersenyum sebelum Palestina merdeka". Saat menjadi raja, ia batalkan semua pernjanjian dengan Israel yang telah disepakati abangnya, sebagai raja sebelumnya, dia menolak mengakui Israel.
Di tahun 1973, ia memobilisasi negara-negara Arab menerapkan embargo minyak untuk AS dan Eropa yang mendukung Israel pada Perang Yom Kippur, akibatnya terjadi krisis ekonomi global, banyak perusahaan-perusahaan multinasional yang kolaps. AS mengalami dampak paling parah akibat embargo.
Di depan menlu AS Henry Kissinger yang diutus Presiden AS Richard Nixon, Raja Faisal tegas mengatakan, "Lu ngajak perang, ayo. Nenek moyang kami hidup tanpa minyak, kalau AS menyerang, saya akan perintahkan untuk membakar semua ladang minyak, kami bisa hidup tanpa minyak, tapi kami tidak bisa hidup tanpa kehormatan!"
Nyali AS ciut, opsi militer tidak jadi diambil. Raja Faisal dibunuh oleh keponakannya sendiri yang baru pulang dari AS pada acara maulid di Istana, meski keponakan dihukum penggal dan muncul isu keterlibatan AS dalam insiden ini, raja pengganti, adiknya, Raja Khalid memerintahkan penghentian penyidikan dan menormalisasi hubungan dengan AS.
Embargo minyakpun dihentikan saat itu. sejak itu pembelaan terhadap Palestina oleh raja Saudi sebatas retorika. Zionis makin merajalela di Palestina.
Coba bayangkan, kalau sekiranya Raja Faisal yang memerintah Saudi saat ini masih hidup dan mendukung Iran sepenuhnya memborbardir Israel, saya kira sudah musnah Israel itu.
Tapi sudahlah, dengan raja yang sekarang, kita hanya bisa sebatas menghayal saja.
#Arabsaudi #Palestina #RajaFaisal


