BERITAWAJO.ID, SENGKANG – Duka atas wafatnya ulama kharismatik Pondok Pesantren As'adiyah, Almarhum Gurutta H. Abd. Hannan Gatta, terus menyisakan kenangan mendalam di hati para santri dan alumninya. Berbagai ungkapan belasungkawa dan kisah keteladanan bermunculan sebagai bentuk penghormatan kepada sosok pendidik yang dikenal rendah hati, penyabar, dan penuh kasih sayang.
Salah satunya datang dari Salwan, seorang alumni sekaligus santri Pondok Pesantren As'adiyah. Melalui tulisan yang dibagikannya, ia mengenang sosok Gurutta sebagai guru yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada setiap santri.
"Saya bersaksi bahwa Gurutta adalah sosok yang sangat baik hati. Kebaikan dan ketulusan beliau akan selalu saya kenang sepanjang hidup," tulis Salwan.
Ia menceritakan pengalaman yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya saat masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah As'adiyah. Ketika itu, tanpa sengaja ia memecahkan kaca salah satu jendela asrama pesantren. Dengan rasa takut, ia menghadap Gurutta yang saat itu menjabat sebagai Kepala Madrasah, karena mengira akan dimarahi atau diminta mengganti kerusakan tersebut.
Namun, di luar dugaan, Gurutta justru memberikan nasihat yang menjadi penyemangat hidupnya.
"Fakkeroni nak, de nasiaga ellinna yero. Atunru-tunru bawanni maguru. Engka nengka matu mita ki deceng."
Yang berarti:
"Tidak apa-apa, Nak. Harga kaca itu tidak seberapa. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari nanti, kamu akan melihat dan meraih kesuksesan itu."
Bagi Salwan, kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan memaafkan, tetapi juga doa, motivasi, dan kasih sayang seorang guru kepada muridnya.
"Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu di dalam kelas, tetapi juga mendidik dengan keteladanan, kelembutan, dan kebijaksanaan," ungkapnya.
Sebelumnya, ribuan pelayat dari berbagai daerah memadati kompleks Pondok Pesantren As'adiyah untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Gurutta H. Abd. Hannan Gatta. Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi keluarga besar As'adiyah, masyarakat Wajo, serta dunia pendidikan Islam di Sulawesi Selatan.
Almarhum dikenal sebagai ulama, pendidik, dan tokoh yang telah mencurahkan hidupnya untuk membina generasi muda melalui pendidikan pesantren. Keteladanan, kesederhanaan, dan dedikasinya menjadikan beliau sosok yang dihormati lintas generasi.
Di akhir tulisannya, Salwan mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendoakan almarhum.
"Semoga segala kebaikan Gurutta menjadi amal jariyah yang terus mengalir, dan semoga Allah SWT membalas setiap ketulusan beliau dengan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin. Lahul Fatihah."(Tim)
Editor : Edi Prekendes



