-->

Iklan

Mengenal To Lotang, Kepercayaan Leluhur Suku Bugis yang Masih Bertahan di Sidrap

REDAKSI
Sabtu, 04 Juli 2026, 7:30 PM WIB Last Updated 2026-07-04T11:31:45Z

 


BERITAWAJO.ID, SIDRAP– Di tengah dominasi agama-agama besar di Indonesia, masih terdapat satu kepercayaan leluhur masyarakat Bugis yang tetap lestari hingga kini, yakni To Lotang atau Towani Tolotang. Kepercayaan ini telah diwariskan secara turun-temurun dan masih dianut oleh sebagian masyarakat di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.


To Lotang dikenal sebagai salah satu kepercayaan asli masyarakat Bugis yang telah ada jauh sebelum masuknya agama-agama samawi ke Sulawesi Selatan. Penganutnya meyakini keberadaan Tuhan Yang Maha Esa yang mereka sebut Dewata SeuwaE, dengan gelar PatotoE, yang berarti Yang Menentukan Takdir.


Pada masa Orde Lama, tercatat sekitar 5.000 warga di wilayah Amparita, Kabupaten Sidrap, masih memeluk kepercayaan ini. Ketika pemerintah hanya mengakui enam agama resmi, komunitas Towani Tolotang memilih bergabung ke dalam agama Hindu sehingga kemudian dikenal sebagai Hindu Tolotang, sebagaimana agama Kaharingan di Kalimantan.


Meski demikian, penganut To Lotang menegaskan bahwa keyakinan mereka bukanlah animisme maupun dinamisme. Mereka memiliki konsep ketuhanan yang jelas dan telah mengenal Tuhan sejak lama.


Ajaran To Lotang bertumpu pada lima pokok keyakinan, yaitu percaya kepada Dewata SeuwaE, meyakini adanya hari kiamat, mempercayai kehidupan setelah kematian, percaya kepada penerima wahyu dari Tuhan, serta menganggap Lontara sebagai kitab suci yang berisi ajaran leluhur.


Baca Juga : Sigera, Mahkota Pengantin Pria Bugis yang Sarat Makna Filosofi, Jangan Sampai Tergeser oleh Zaman



Dalam praktik ritualnya, masyarakat Towani Tolotang menggunakan batu, sumur, maupun makam leluhur sebagai sarana konsentrasi dalam berdoa, bukan sebagai objek yang disembah. Karena itu, mereka berharap masyarakat tidak keliru memahami tradisi tersebut sebagai bentuk penyembahan terhadap benda.


Secara sosial, masyarakat To Lotang terbagi menjadi dua kelompok, yakni Kelompok Benteng, yang sebagian besar telah memeluk Islam namun masih mempertahankan tradisi budaya leluhur, serta Towani Tolotang, yaitu komunitas yang tetap menjalankan ajaran agama warisan nenek moyang.


Perbedaan kedua kelompok terlihat dalam prosesi pernikahan dan kematian. Kelompok Benteng melaksanakan tata cara sesuai syariat Islam, sedangkan Towani Tolotang memiliki ritual tersendiri yang dipimpin oleh Uwatta, pemimpin adat yang merupakan keturunan pendiri Towani Tolotang.


Salah satu tradisi penting adalah Sipulung, ritual tahunan yang menjadi ajang berkumpul dan berdoa. Komunitas Towani Tolotang melaksanakannya di kawasan Perrinyameng, yang merupakan makam I Pabbere, dengan membawa sesajian berupa nasi dan lauk-pauk sebagai simbol bekal kehidupan di alam berikutnya.


Sementara itu, Kelompok Benteng melaksanakan Sipulung di Sumur Pakkawaru E, yang diisi dengan pembacaan kitab Lontara oleh Uwatta sebagai bagian dari pelestarian ajaran leluhur.


Keberadaan To Lotang menjadi bagian penting dari kekayaan budaya dan sejarah masyarakat Bugis. Di tengah perkembangan zaman, komunitas ini tetap berupaya mempertahankan identitas dan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus menjadi bukti keberagaman budaya di Sulawesi Selatan.


Sumber: Palpos.disway.id (diolah)

Editor: Edi Prekendes

Komentar

Tampilkan

  • Mengenal To Lotang, Kepercayaan Leluhur Suku Bugis yang Masih Bertahan di Sidrap
  • 0

Terkini

Topik Populer