-->

Iklan

Sigera, Mahkota Pengantin Pria Bugis yang Sarat Makna Filosofi, Jangan Sampai Tergeser oleh Zaman

REDAKSI
Sabtu, 04 Juli 2026, 6:35 PM WIB Last Updated 2026-07-04T10:35:56Z

 


BERITAWAJO.ID, SENGKANG – Di balik kemegahan busana adat pengantin Bugis, terdapat sebuah mahkota yang memiliki nilai filosofi tinggi, yakni Sigera. Penutup kepala khas pengantin pria Bugis ini bukan sekadar pelengkap busana, melainkan simbol kehormatan, kepemimpinan, dan kesiapan seorang laki-laki memasuki kehidupan rumah tangga.


Dalam tradisi Bugis, hari pernikahan merupakan momentum sakral ketika seorang pengantin pria diibaratkan sebagai "raja sehari". Karena itu, ia mengenakan atribut kebesaran yang pada masa kerajaan dahulu hanya digunakan oleh kalangan bangsawan dan para kesatria.


Bentuk Sigera yang menjulang ke atas melambangkan ketegasan, kewibawaan, serta Siri' atau harga diri yang menjadi nilai utama masyarakat Bugis. Pengantin pria yang mengenakannya diharapkan mampu menjadi suami yang bertanggung jawab, menjaga kehormatan keluarga, serta tegar menghadapi berbagai tantangan kehidupan.


Posisi Sigera yang berada di bagian kepala juga memiliki makna mendalam sebagai simbol lahirnya tanggung jawab baru sebagai pemimpin rumah tangga (paddennuangang). Filosofi ini sejalan dengan petuah Bugis, "Aju malurumi riala parewa bola", yang berarti hanya kayu yang lurus layak dijadikan rangka rumah. Artinya, seorang suami harus memiliki pikiran yang lurus, adil, dan bijaksana dalam memimpin keluarganya.


Sigera Bagian Tak Terpisahkan dari Mappasanginga'

Dalam adat pernikahan Bugis dikenal istilah Mappasanginga', yaitu satu kesatuan busana adat pengantin pria yang memiliki makna simbolik dan tidak dapat dipisahkan.

Setelan Mappasanginga' terdiri atas:

Sigera sebagai penutup kepala.

Pattapong atau jas adat (kalangkari).

Pagadu atau sarung ikat.


Ketiga unsur tersebut merupakan simbol kehormatan, martabat, dan kesakralan dalam prosesi Tudang Botting (pernikahan adat Bugis). Tanpa salah satu unsur tersebut, makna filosofis Mappasanginga' dianggap tidak lagi utuh.


Sigera bahkan disebut sebagai mahkota yang menyempurnakan busana adat pengantin pria. Kehadirannya menjadi penanda bahwa seorang laki-laki telah memasuki fase kehidupan baru dengan penuh tanggung jawab.


Jangan Disamakan dengan Songkok Recca

Budayawan Bugis mengingatkan bahwa Sigera tidak dapat disetarakan dengan Songkok Recca dalam prosesi pernikahan adat.


Meski Songkok Recca merupakan warisan budaya Bugis yang memiliki nilai sejarah tersendiri, dalam konteks Tudang Botting, kedudukannya berbeda dengan Sigera. Sigera merupakan mahkota adat yang memiliki makna khusus sebagai simbol kebesaran pengantin pria.


Belakangan ini, mulai banyak prosesi pernikahan Bugis yang mengganti penggunaan Sigera dengan Songkok Recca. Pergeseran tersebut dikhawatirkan dapat mengurangi nilai keaslian busana adat sekaligus mengancam keberlangsungan tradisi penggunaan Sigera.


Apabila kondisi ini terus berlanjut, Sigera dikhawatirkan tidak hanya hilang dari praktik budaya, tetapi juga perlahan menghilang dari ingatan generasi muda sebagai salah satu identitas penting adat pernikahan Bugis.


Pelestarian Sigera menjadi tanggung jawab bersama, baik keluarga, tokoh adat, perias pengantin, maupun generasi muda, agar warisan budaya Bugis tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


Editor: Edi Prekendes


Komentar

Tampilkan

  • Sigera, Mahkota Pengantin Pria Bugis yang Sarat Makna Filosofi, Jangan Sampai Tergeser oleh Zaman
  • 0

Terkini

Topik Populer