BERITAWAJO.ID, SENGKANG – Setiap organisasi, baik organisasi kemasyarakatan, profesi, maupun komunitas, membutuhkan anggota yang mampu bekerja sama, saling menghargai, dan memiliki komitmen untuk memajukan organisasi. Namun, tidak jarang muncul individu yang justru menjadi penghambat kemajuan.
Fenomena ini kerap diibaratkan sebagai "virus organisasi", yakni perilaku anggota yang menciptakan konflik, mengganggu keharmonisan, dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada tujuan bersama. Penelitian tentang budaya kerja menunjukkan bahwa perilaku toksik, seperti kepemimpinan yang otoriter, perundungan, komunikasi yang buruk, dan konflik yang tidak sehat, dapat menurunkan semangat, produktivitas, hingga kepercayaan dalam organisasi.
Ilustrasi yang beredar di media sosial menggambarkan beberapa karakter yang dinilai dapat merusak organisasi, di antaranya:
Sok mengatur dan merasa paling benar, meski bukan bidang atau tanggung jawabnya.
Bersikap otoriter, menganggap pendapatnya sebagai keputusan mutlak tanpa mendengar masukan anggota lain.
Gemar mencampuri urusan divisi lain, sehingga mengganggu kinerja dan koordinasi.
Lebih banyak mengkritik daripada bekerja, serta sering menyalahkan orang lain tanpa memberikan solusi.
Memanfaatkan organisasi untuk kepentingan pribadi, seperti mengejar fasilitas, jabatan, atau keuntungan pribadi.
Pengamat organisasi menilai bahwa perilaku seperti itu dapat memicu konflik internal, menurunkan motivasi anggota, dan menghambat tercapainya tujuan organisasi. Sebaliknya, organisasi yang sehat dibangun melalui komunikasi terbuka, pembagian tugas yang jelas, kepemimpinan yang melayani, serta sikap saling menghormati antarsesama anggota.
Pada akhirnya, kemajuan organisasi bukan ditentukan oleh satu orang, melainkan oleh kerja sama seluruh anggotanya. Karena itu, setiap anggota diharapkan mengedepankan etika, profesionalisme, dan semangat kebersamaan agar organisasi tetap berkembang, solid, dan mampu memberikan manfaat bagi semua pihak.
"Organisasi yang kuat bukanlah organisasi tanpa perbedaan pendapat, melainkan organisasi yang mampu menyelesaikan perbedaan dengan cara yang dewasa, transparan, dan berorientasi pada tujuan bersama."(Tim)
Editor : Edi Prekendes



