BERITAWAJO.ID, SENGKANG – Kesuksesan tidak datang secara instan. Kalimat itulah yang menggambarkan perjalanan hidup H. Syamsul Riadi (42), seorang pengusaha muda asal Kabupaten Wajo yang kini dikenal sebagai pelaku usaha sukses di bidang percetakan dan berbagai sektor bisnis lainnya, Selasa 14/0726.
Di balik keberhasilannya, tersimpan kisah perjuangan panjang yang dimulai dari seorang tenaga honorer dengan penghasilan hanya Rp250 ribu per bulan, hingga akhirnya mampu membangun usaha sendiri dan menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda di Kabupaten Wajo.
Berawal dari Honor Rp250 Ribu
H. Syamsul Riadi mengisahkan, pada tahun 2006 dirinya bekerja sebagai tenaga honorer di Dinas Pendidikan. Saat itu gajinya hanya sekitar Rp250 ribu per bulan dan bahkan dibayarkan setiap tiga bulan sekali. Menurutnya, penghasilan tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Uang bensin saja sudah tidak cukup. Saya berpikir harus mencari pekerjaan yang penghasilannya lebih baik," ujarnya.
Kesempatan itu datang ketika Pemerintah meluncurkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Ia kemudian mengikuti seleksi calon Unit Pengelola Kegiatan (UPK) PNPM-MP di Kecamatan Sabbangparu dan dinyatakan lulus.
Karier Terus Meningkat
Dari pekerjaan tersebut, penghasilannya naik menjadi Rp350 ribu per bulan. Seiring meningkatnya kinerja dalam mengelola dana bergulir dan administrasi program, penghasilannya terus bertambah hingga mencapai Rp1,8 juta per bulan.
Tidak berhenti di situ, kariernya kembali meningkat ketika dipercaya menjadi Pendamping Fasilitator PNPM dengan penghasilan sekitar Rp4,3 juta per bulan.
Kemudian ia kembali dipromosikan menjadi Fasilitator dengan gaji mencapai lebih dari Rp6 juta per bulan dan sempat ditugaskan di Kabupaten Bone. Bahkan dirinya mendapat kesempatan untuk ditempatkan di Kabupaten Kepulauan Selayar.
Namun justru di titik itulah ia mengambil keputusan besar yang mengubah hidupnya.
Memilih Berhenti Demi Membangun Usaha
Alih-alih mengejar karier sebagai fasilitator, Syamsul Riadi memilih mengundurkan diri.
Keputusan tersebut diambil karena ingin lebih dekat dengan keluarga sekaligus mengejar cita-cita menjadi seorang pengusaha.
"Saya berpikir kalau mengejar karier, penghasilan saya ada batasnya. Saat itu saya menghitung, kalau pun naik jabatan, paling tinggi sekitar belasan juta rupiah per bulan. Saya ingin lebih dari itu."
Tahun 2013, ia mendirikan usaha percetakan yang diberi nama Genefo Printing di Jalan Andi Magga Amirullah Kota Sengkang Kecamatan Tempe Kabupaten Wajo, WA: 082350651623
Usaha tersebut melayani berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari pembuatan undangan, baliho, spanduk, stempel, prasasti hingga berbagai produk percetakan lainnya.
Berani Bermimpi Besar
Saat memulai usaha, Syamsul Riadi memiliki target pribadi.
Ia ingin suatu hari memperoleh penghasilan Rp30 juta setiap bulan.
Target tersebut akhirnya berhasil ia capai.
Namun setelah bergabung di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), pola pikirnya kembali berubah.
Ia bertemu seorang pengurus HIPMI tingkat provinsi yang disebut memiliki penghasilan sekitar Rp200 juta per bulan.
Sejak saat itu, ia kembali menaikkan target hidupnya.
"Kalau orang lain bisa memperoleh Rp200 juta per bulan, berarti saya juga harus berusaha untuk bisa mencapai itu."
Belajar Hingga ke Bandung
Untuk mengembangkan bisnisnya, Syamsul Riadi rela berkeliling ke Bandung selama hampir satu bulan.
Ia mendatangi berbagai pabrik sepatu, pakaian, topi hingga berbagai industri lainnya untuk mencari peluang usaha baru yang bisa dikembangkan di Kabupaten Wajo.
Ia mempelajari bagaimana sistem produksi, pemasaran hingga distribusi barang sebelum akhirnya menentukan arah bisnis yang ingin dijalankan.
Tidak Takut Mencoba Peluang Baru
Dalam perjalanan bisnisnya, ia kemudian bergabung dengan sebuah perusahaan yang memiliki gerakan donasi sejuta frame kacamata medis PT. Mega Gloryoung Internasional (MGI Club)
Di balik program sosial tersebut, ia melihat adanya peluang usaha.
Saat mengetahui belum ada penyedia produk di wilayah Wajo maupun Indonesia Timur, ia memberanikan diri menjadi salah satu penyedia barang.
Keputusan itu menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan bisnisnya hingga saat ini.
Jiwa Bisnis Sudah Tertanam Sejak Kecil
Menariknya, jiwa wirausaha H. Syamsul Riadi ternyata sudah muncul sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Saat masih kelas III SD, ia sudah membantu menjual es kepada teman-temannya.
Melihat semangat sang anak, orang tuanya kemudian membeli lemari pendingin dan mulai memproduksi es lilin sendiri.
Setiap berangkat sekolah, Syamsul membawa satu termos berisi es lilin untuk dijual.
Saat ada pertandingan sepak bola atau perayaan 17 Agustus di kampung, ia bahkan mampu menghabiskan hingga tiga termos es dalam sehari.
Semua hasil penjualannya ditabung sebagai modal belajar berwirausaha.
Memasuki bangku SMP hingga kuliah, semangat berdagang itu tidak pernah berhenti.
Ia pernah menjual jagung kepada peternak, membawa berbagai barang dagangan saat musim liburan hingga mencoba berbagai usaha musiman yang dianggap memiliki peluang keuntungan.
Kunci Kesuksesan
Bagi H. Syamsul Riadi, kesuksesan bukan semata-mata karena modal besar, melainkan keberanian mengambil keputusan, kemauan belajar, serta konsistensi dalam bekerja.
Ia juga menekankan pentingnya memiliki impian yang besar.
"Kalau kita punya target, kita akan terus mencari cara untuk mencapainya. Jangan takut bermimpi besar, karena mimpi itulah yang mendorong kita terus berkembang."
Kini, perjalanan hidup H. Syamsul Riadi menjadi bukti bahwa keberhasilan dapat diraih siapa saja yang mau bekerja keras, berani keluar dari zona nyaman, dan tidak pernah berhenti belajar. Kisahnya diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda di Kabupaten Wajo agar berani membangun usaha sendiri dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.(Tim)
Editor : Edi Prekendes


