BERITAWAJO.ID, BELAWA – Aksi warga Desa Lautang, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo, yang menanam pohon pisang di ruas jalan provinsi Wajo–Sidrap beberapa hari lalu ternyata bukan sekadar aksi spontan. Di balik aksi tersebut tersimpan kekecewaan masyarakat terhadap kondisi jalan yang disebut telah rusak selama belasan bahkan puluhan tahun tanpa penanganan yang memadai, Rabu (08/07/26).
Salah seorang tokoh masyarakat Desa Lautang, Ahmad Bisri, Saat ditemui dan Wawancara Khusus mengungkapkan bahwa jalan tersebut merupakan akses utama yang menghubungkan Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo, dengan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Selain menjadi jalur penghubung antarwilayah, ruas jalan itu juga menjadi urat nadi perekonomian masyarakat.
"Jalan ini merupakan jalan provinsi. Ini akses utama menuju Sidrap. Hampir seluruh hasil pertanian masyarakat melewati jalan ini," ujarnya saat ditemui Jurnalis BERITAWAJO.ID.
Menurut Ahmad Bisri, kondisi jalan rusak telah berlangsung sangat lama. Meski pernah dilakukan pengaspalan pada sebagian ruas dan beberapa titik mendapat penanganan terbatas, kerusakan kembali terjadi hingga kini.
"Sudah lebih dari 15 tahun kondisinya rusak. Pernah diaspal, tetapi sekarang sudah rusak lagi. Selama ini masyarakat terus menunggu perbaikan," katanya.
Ia menjelaskan, kerusakan jalan dipengaruhi dua faktor, yakni usia jalan yang sudah lama serta kondisi wilayah yang kerap terdampak banjir luapan sungai. Meski keberadaan Bendung Gerak Tempe telah mengurangi tinggi genangan banjir dibandingkan masa lalu, dampak terhadap aktivitas pertanian masyarakat masih dirasakan.
"Dulu air banjir bisa mencapai sekitar dua meter di beberapa titik. Sekarang memang sudah berkurang setelah ada Bendung Gerak Tempe, tetapi hasil pertanian masyarakat juga ikut menurun karena kondisi lahan berubah," jelasnya.
Penanaman Pohon Pisang Bentuk Kekecewaan Warga
Ahmad Bisri menegaskan aksi penanaman pohon pisang dilakukan murni oleh warga Desa Lautang sebagai bentuk penyampaian aspirasi agar Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan segera memperbaiki jalan tersebut.
"Seratus persen itu warga Desa Lautang yang melakukan penanaman pohon pisang. Tujuannya agar pemerintah melihat kondisi jalan ini dan segera melakukan perbaikan," tegasnya.
Ia mengaku masyarakat sebenarnya sempat memiliki harapan setelah muncul patok berwarna merah yang diduga sebagai penanda rencana pembangunan jalan. Namun hingga kini belum ada realisasi pekerjaan di lapangan.
"Tahun lalu sempat ada patok merah. Masyarakat mengira jalan ini akan segera dibangun, tetapi sampai sekarang belum ada realisasi," ujarnya.
Menurut Ahmad Bisri, setiap momentum pemilihan kepala daerah maupun gubernur, perbaikan jalan tersebut selalu menjadi bagian dari janji yang disampaikan kepada masyarakat. Namun hingga kini warga masih menunggu bukti nyata.
Harapan kepada Pemerintah Provinsi
Ahmad Bisri berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan segera merealisasikan pembangunan jalan tersebut, mengingat statusnya sebagai jalan provinsi yang memiliki peran strategis bagi mobilitas masyarakat dan distribusi hasil pertanian.
"Mudah-mudahan bisa segera diperbaiki karena ini jalan utama masyarakat dan jalur pengangkutan hasil pertanian," harapnya.
Tanggapan Gubernur Sulsel
Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menegaskan bahwa aksi penanaman pohon pisang di jalan rusak tidak akan menjadi dasar percepatan pembangunan.
Saat menghadiri Rapat Paripurna HUT ke-67 Kabupaten Maros, Selasa (7/7/2026), Gubernur menyatakan pemerintah tetap bekerja berdasarkan perencanaan teknis dan kemampuan anggaran, bukan karena adanya aksi protes.
Meski demikian, sebelumnya Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan Sufriadi Arif telah menjelaskan bahwa ruas jalan provinsi Wajo–Sidrap tetap masuk dalam program penanganan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Penanganan direncanakan mencakup pemeliharaan rutin, pemeliharaan kondisi, rekonstruksi jalan, serta pembangunan ruas baru pada segmen tertentu yang memerlukan alokasi anggaran tersendiri.
Kini, warga Desa Lautang berharap rencana tersebut segera direalisasikan sehingga akses utama penghubung Kabupaten Wajo dan Sidrap dapat kembali layak dilalui, aman, serta mampu mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Editor: Edi Prekendes




